Jumat, 11 Januari 2013

Perencanaan Saluran Irigasi

 
Untuk mengembangkan suatu daerah menjadi daerah irigasi diperlukan data sebagai berikut :
  1. Peta topografi daerah
  2. Jumlah air yang dapat dimanfaatkan berdasarkan debit sumber airnya
  3. Lokasi sumber air / lokasi pengambilannya
  4. Keadaan tanah daerah pengairan untuk memperkirakan banyaknya air yang hilang melalui rembesan, bocoran serta menentukan bentuk tampang saluran
  5. Data hidrologi terutama menyangkut potensi penyediaan air (water avability) dan kesetimbangan air (water balance).
  6. Kebutuhan air pada areal irigasi (water requirement) sesuai jenis tanaman dan pada perencanaan ini didasarkan kebutuhan air untuk tanaman padi.
  7. Keadaan air terutama menyangkut kualitasnya.
  8. Data klimatologi
  9. Peta lahan tanah
  10. Data lain yang berhubungan dengan pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah menjadi daerah irigasi
Menetukan Lokasi Bendung
Bendungan yang merupakan bangunan penyadap air dibangun dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
  1. Tinggi tempat diusahakan agar daerah yang dapat diairi seluas mungkin sehingga lokasi bendung dipilih yang cukup tinggi
  2. Debit air, jika sungai akan dibendung merupakan pertemuan dari dua sungai atau lebih maka bendung diletakkan di sebelah hilir titik pertemuan dengan demikian akan diperoleh debit yang lebih besar
  3. Kandungan lumpur, lokasi bendung dipilih daerah dimana sungai belum banyak mengalami pengotoran karena lumpur akan mempersulit pemeliharaannya
  4. Dihindarkan terjadinya tanah tandus yang disebabkan kurangnya air di sebelah hilir
  5. Tanah longsor, umur dari bendung ditentukan oleh pemeliharaan dan keadaan lingkungannya maka bangunan dimana tanahnya mudah longsor sangat mempengaruhi kekuatan bendung
Saluran Primer
Saluran primer atau saluran induk dibuat dengan mengikuti arah garis tranche dan dimulai dari bangunan penyadap. Pada bagian pertama dibangun saluran penangkap pasir atau lumpur, kemudian bangunan penguras yang bercabangan dengan bangunan pengambilan. Dari bangunan penguras dibuat saluran penguras yang hampir sejajar dengan sungai untuk memudahkan pengurasan lumpur. Dalam pembuatan saluran primer harap diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Panjang saluran diusahakan tidak berlebihan karena harus membelok-belok mengikuti garis tranche
  2. Saluran primer memungkinkan melewati jurang-jurang atau memotong aliran sungai, sehingga perlu dipertimbangkan banyaknya galian dan timbunan  karena nanti akan mengakibatkan banyaknya kehilangan air
  3. Untuk mengurangi masuknya air hujan ke saluran primer, di tepi saluran dibuat saluran pelampung air hujan
  4. Dimensi saluran primer ditentukan berdasarkan banyaknya air yang dibutuhkan untuk seluruh areal irigasi dengan memperhatikan faktor-faktor kehilangan air baik di petak sawah maupun di sepanjang saluran.
Saluran Sekunder
Untuk memungkinkan dapat mengairi daerah kedua sisi saluran, maka saluran sekunder dibuat menyilang tegak lurus garis tranche dan diletakkan di punggung topografi. Dalam pembuatan saluran sekunder, hal-hal di bawah ini harus menjadi pertimbangan :
  1. Bentuk petak tersier dan jenis pengairannya, saluran sekunder merupakan batas dari petak tersier, sehingga penentuan dari petak tersier, sehingga penentuan dari petak tersier diusahakan berbentuk persegi panjang (memanjang arah aliran) dengan luas disesuaikan dengan keadaan topografi daerah
  2. Perbedaan tinggi tempat, saluran yang melalui suatu daerah dimana kemiringan tanahnya besar akan memperbanyak bangunan terjunan yang diperlukan serta memperbesar biaya pembangunan
  3. Dimensi saluran sekunder ditentukan berdasarkan kebutuhan air dari seluruh petak tersier yang dilayani dengan memperhitungkan kehilangan air banyak di petak sawah maupun pada saluran sekunder
  4. Bangunan pembagi dan bangunan pelengkap dijadikan satu untuk memudahkan operasinya dan penghematan biaya pembangunannya
Tampang Saluran
Dimensi saluran dan bentuk saluran perlu diperhatikan agar didapatkan saluran stabil yaitu tidak mengganggu masalah erosi maupun sedimentasi. Persoalan pada saluran yang perlu mendapat yaitu penentuan kecepatan terpakai, agar tidak timbul erosi, sedimentasi, maupun longsoran-longsoran. Apapun yang dikehendaki adalah kecepatan terpakai kecepatan transport.
1. Tampang Memanjang Saluran
Pada saluran primer maupun sekunder dibuat tampang memanjang untuk mengetahui :
  • Elevasi muka tanah asli yang diperoleh dari ketinggian garis kontur pada peta topografi daerah.
  • Elevasi dasar saluran dengan memperhitungkan debit air saluran.
  • Panjang saluran sesuai dengan panjang daerah irigasi.
  • Elevasi saluran muka air sesuai dengan bentuk tampang saluran.
  • Tinggi / dalamnya timbunan maupun galian maksimum.
  • Tinggi muka air minimum sebagai kontrol.
Jumlah bangunan terjunan yang diperlukan, diperlukannya bangunan ini diperhitungkan berdasarkan tinggi yang harus dihilangkan oleh bangunan terjunan sebagai berikut :
  • Selisih tinggi karena kemiringan saluran.
  • Tinggi yang hilang pada bangunan pembagi.
  • Tinggi yang hilang pada alat ukur.
  • Selisih tinggi karena tinggi muka tanah asli.
  • Bangunan pelengkap.
Tinggi muka air minimum ditentukan berdasarkan :
  • Tinggi petak sawah
  • Tinggi genangan
  • Tinggi kehilangan tinggi box tersier / pemberi.
2. Tampang Melintang Saluran
Dimensi saluran baik saluran primer maupun saluran sekunder ditentukan berdasarkan kebutuhan air maksimum yang diperhatikan menurut luas daerah yang dialiri, yaitu :
  • Untuk saluran primer berdasarkan seluruh daerah irigasi yang dilayani.
  • Saluran sekunder berdasarkan atas petak-petak tersier yang dialiri dengan memperhatikan banyaknya air yang hilang karena rembesan, bocoran dan sebagainya.
Pada perencanaan jaringan irigasi, banyaknya air yang hilang di saluran diambil sebagai berikut :
  • Untuk saluran terpanjang diambil 0,675 dan saluran terpendek diambil 0,885 dan diantara keduanya diadakan inter polasi linier.
  • Untuk saluran trpendek diambil : 0/99 dan diantara keduanya diambil / diadakan interpolasi linear.

0 komentar:

Poskan Komentar